Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?
Iklan
Kunjungi Sponsor Kami
Terimakasih
Semoga Artikel Bisa Bermanfaat
[x]

Nazaruddin, Titik Balik Partai Demokrat

Written By admin on Jumat, 08 Juli 2011 | 07.17

Nazaruddin, Titik Balik Partai Demokrat

Jakarta - Dalam usianya yang relatif muda, Partai Demokrat meneguk banyak kesuksesan. Calon presiden yang diusungnya sukses dan partai ini mendudukkan banyak wakilnya di Senayan. Namun, cukup satu M Nazaruddin untuk membalik itu semua.

"Saya melihat elite Demokrat memisahkan Nazaruddin dari Demokrat. Padahal Nazar kan mantan bendahara umum, yang artinya dia itu orang nomor 3 atau 4 di partainya, apalagi mengatur pendanan partai. Jadi kalau Demokrat mau lepas tangan ya tidak bisa," ujar peneliti dari The Indonesian Institute, Hanta Yuda, dalam perbincangan.

Menurut dia, ada 4 hal yang mengantarkan Demokrat menjadi partai sukses yakni figur SBY, citra partai utamanya terkait dengan isu pemberantasan korupsi yang diusungnya. Selain itu persepsi publik yang baik pada pemerintah yang berkorelasi positif serta soliditas internal akibat adanya sosok SBY.

"Saya lihat setelah mencuat kasus Nazaruddin, ini mengalami titik balik, seolah mengalami pelemahan. Kasus Nazaruddin dan Andi Nurpati saya kira mencoreng partai, tidak hanya di pusat tetapi di daerah karena sekarang banyak pejabat publik dari Demokrat," tutur Hanta.

Nazarrudin yang bandel, tak memenuhi panggilan KPK dan kini menghilang, dinilai Hanta sukses menurunkan citra bersih partai belambang bintang mercy ini. Apalagi faksionalisme di tubuh partai ini semakin mencuat. Inilah yang menurutnya menjadi tanda-tanda titik kritis PD.

Hal ini diperparah dengan sejumlah anggota PD yang semula berasal dari partai lain dan kemudian terindikasi terlibat kasus hukum. Sebut saja tersangka kasus pengadaan sejumlah barang di Kementerian Sosial, Gubernur Bengkulu nonaktif Agusrin M Nazamuddin, meski kemudian divonis bebas. Agusrin sebelumnya memiliki menjadi gubernur di periode pertama dengan bendera PKS dan PBR.

Lainnya, mantan Wali Kota Bukit Tinggi, Djufri, yang semula bernaung di bawah Partai Bulan Bintang terbelit korupsi pengadaan tanah untuk pembangunan gedung DPRD Bukittinggi. Pun dengan Sukawi Sutarip, yang semula menjadi Wali Kota Semarang atas usungan PDI Perjuangan pernah disebut terlibat kasus penggunaan dana APBD yang kemudian muncul surat perintah penghentian penyidikan (SP3).

Meski demikian, Hanta melihat Demokrat masih memiliki peluang untuk tetap berjaya di 2014. Asalkan dalam 3 tahun yang tersisa ini, Demokrat bersungguh-sungguh menyiapkan pengganti SBY dan menuntaskan kasus hukum yang ditengarai melibatkan kadernya.

"SBY sebagai Dewan Pembina Demokrat harus membersihkan korupsi dari dalam rumahnya sendiri, yakni dari partainya. Konsolidasi internal untuk mengelola faksionalisme juga perlu dilakukan. SBY jangan sibuk mematut-matut diri dengan pencitraan kalau ingin menyelamatkan partainya. Kalau tidak, PD akan mengalami titik balik sejarah penurunan elektoral suara," papar Hanta.

[hangat-news]

0 komentar:

Posting Komentar